turkish airlines

Bangunan Megah Dan Bersejarah Turki Bangunan Megah Dan Bersejarah Turki

bangunanbersejarah.com  Pesona negeri Timur Tengah memang tidak ada habisnya. Negeri yang banyak dijelajahi oleh para pemuka agama ini, memang menyimpan beragam dan berjuta misteri keindahan alam dan bangunan yang menawan. Kalau begitu, untuk menyambut suasana libur panjang di minggu ini, bagaimana kalau jalan jalan ke negara Turki!

Di Turki ada banyak sekali bangunan bersejarah dan megah yang bisa sobat Rooang kunjungi bersama keluarga. Turki merupakan sebuah negara yang sangat bersejarah, peradaban yang tinggi, bersanding dengan Persia, Romawi dan Mesir, beberapa bangunan negara ini memiliki sejarah panjang dan dapat dikatakan merupakan sebuah situs terbaik untuk sebuah bangunan, salah satunya adalah bangunan Hagia Sophia sobat! Hagia Sophia ini dulunya adalah sebuah gereja orthodox, sobat. Namun setelah kesultanan Istanbul jatuh di bawah pengusaan kaisar Ottoman, gereja orthodox di ubahnya menjadi sebuah masjid. Jadi, ketika sobat berkunjung ke sini jangan heran kalau sobat dapat menjumpai 2 gaya bangunan yakni gaya bangunan gereja dan masjid. Namun terjadi sebuah perubahan setelah Istanbul membangun masjid biru atau Blue Mosque, Hagia Sophia yang terletak di dekat masjid ini akhirnya diubah menjadi sebuah museum.

Sehingga, kini Hagia Sophia bukan lagi sebuah masjid atau gereja, akan tetapi bangunan museum yang menyimpan sejarah perjuangan negara Turki. Bangunan bersejarah berikutnya adalah Blue Mosque atau Masjid Biru. Mengapa diberi nama Masjid Biru? Alasannya adalah karena warna cat interiornya didominasi warna biru. Akan tetapi cat biru tersebut bukan merupakan bagian dari dekor asli masjid sobat, sehingga cat tersebut dihilangkan. Sekarang, interior masjid ini sudah tidak terlihat berwarna biru. Namun meskipun sudah tidak didominasi oleh warna biru lagi, namun masjid yang dibangun tahun 1609-1616 atas perintah Sultan Ahmed I ini masih sangat terlihat cantik dan menawan sobat! Masjid Biru ini ada di kawasan tertua di Istanbul sobat, yaitu di sebuah kawasan yang sudah ada sebelum tahun 1453 yang dulunya ada di bawah pengusaan Konstantinopel, ibukota Kekaisaran Bizantium. Tepatnya berada tidak jauh dari situs kuno Hippodrome, dan juga berdekatan Museum Hagia Sophia. Jarak Masjid Biru ini tidak jauh dengan Istana Topkap? Sultan Utsmaniyah sampai tahun 1853 dan juga tidak jauh dari pantai Bosporus. Dan jika sobat melihat dari laut maka kubah dan menara si Masjid Biru tampil mendominasi cakrawala kota Istanbul. Hal ini disebabkan oleh Arsitek Masjid Biru yaitu, Sedefhar Mehmet Aga diberi kepercayaan untuk tidak perlu menghemat biaya dalam pembangunan tempat ibadah umat Islam yang besar dan indah ini. Sehingga struktur dasar bangunan ini nyaris berbentuk kubus, berukuran 53 kali 51 meter! Bangunan ikonik yang juga bersejarah di Turki adalah Menara Galata. Menara Galata merupakan sebuah menara batu abad pertengahan di distrik Galata Istanbul, Turki. Menara Galata juga merupakan salah satu ikon kota yang terkenal, sobat! Dengan tinggi sebesar 66 meter, dan diameter kerucut silinder sebesar 16 meter, Menara Galata mampu mendominasi langit dan panorama kota Istanbul Lama dan sekitarnya.

Kecuali itu, mimbar, keempat pintu utama dan 8 buah jendela serambi terbuat dari ukiran kayu jenis merbau bergaya seni tinggi – terbukti hingga kini masih tetap utuh. Belum lagi dengan ukiran dan hiasan ornamen khas Melayu Deli pada setiap sudut bangunan, yang serta merta melahirkan nilai-nilai sakral religius yang teramat dalam bagi tiap orang yang memasukinya. Masjid Al-Osmani Jalan KL Yos Sudarso KM 18 Kelurahan Pekan Labuhan Kecamatan Medan Labuhan merupakan bukti sejarah keberadaan Kesultanan Deli, di Medan. Masjid ini didirikan masa Kerajaan Melayu tahun 1857 oleh Raja Deli ke-7 yang bergelar Sultan Osman Perkasa Alam. Masjid ini usianya 154 tahun atau lebih dari satu setengah abad. Maka dari itu, Masjid Al-Osmani merupakan masjid pertama dan tertua di Kota Medan. Masjid Al-Osmani ini kesannya sebagai bangunan lama dan bersejarah. Masih kental terlihat dengan ornamen melayu, walaupun sudah banyak bagian masjid yang direnovasi. Letaknya yang pinggir jalan raya, membuat musafir (orang dalam perjalanan jauh) suka untuk melaksanakan ibadah di masji itu. Bahkan setiap salat Jumat, masjid ini nyaris tidak mampu menampung jamaah yang hadir.

Menurut, Imam Rawatib Masjid Al-Osmani, H Basuki Said masjid Al-Osmani ini sudah beberapa kali mengalami renovasi. Pada saat didirkan pertama kali masjid ini masih berbahan kayu namun seiring perkembangan zaman, tepatnya pada tahun 1870-1872 masjid ini dibangun menjadi bangunan permanen oleh Sultan Mahmud Perkasa. “Masjid Al-Osmani merupakan mesjid pertama dan tertua di Kota Medan setelah Masjid Raya Al-Mashun Medan,” ujarnya. Di bagian dalam masjid terdapat empat tiang yang berfungsi sebagai penyangga utama kubah masjid. Empat tiang penyangga itu juga sebagai simbol empat sifat kenabian. Selain pilar utama, di dalam masjid terdapat mimbar khatib yang masih asli dengan bahan dari kayu pilihan dengan ukiran melayu memiliki tangga. Sementara itu, di areal masjid Al-Osmani, ada perkuburan wakaf. Dikuburan tersebut terdapat lima Raja Deli yang dikuburkan yakni Tuanku Panglima Pasutan (Raja Deli IV), Tuanku Panglima Gandar Wahid (Raja Deli V), Suilthan Amaluddin Perkasa Alam (Raja Deli VI), dan juga Sulthan Usman Perkasa Alam dan Sulthan Mahmud Perkasa Alam. Tjong A Fie merupakan sejarah yang tak bisa dipisahkan dari Kota Medan.

Baca Juga :Bangunan Bersejarah Di Lawang

Tokoh multikulturisme yang banyak berjasa membangun Medan. Tjong A Fie dilahirkan di Provinsi Guandong, Kabupaten Maizen, di Desa Sukaou, Tiongkok, pada 1860 lalu. Dia datang ke Medan dari Meixian, Guandong, pada 1875. Rumah Tjong A Fie merupakan gedung bergaya Tiongkok kuno yang dibangun pada tahun 1900, lokasinya terletak dijalan Ahmad Yani (Kesawan). Dia adalah jutawan pertama di Sumatera yang namanya sangat terkenal sampai sekarang walaupun ia sudah wafat pada tahun 1921. Kesuksesannya berkat usaha dan hubungan baiknya dengan Sultan Deli dan para pembesar perkebunan tembakau Belanda. Hingga saat ini rumah tersebut masih ditempati keluarga Tjong A Fie. Di tanah Deli, Tjong A Fie menjalin hubungan baik dengan Sultan Deli, Makmoen Al Rasjid Perkasa Alamsyah dan Tuanku Raja Mudasehingga membuka jalan baginya untuk menjalankan usaha. Sultan memberinya konsesi penyediaan atap daun nipah untuk keperluan perkebunan tembakau untuk pembuatan bangsal. Tjong A Fie dikenal menjadi orang Tionghoa pertama yang memiliki perkebunan yang sangat luas.