toko bangunan anugrah surabaya

Bangunan Bersejarah Surabaya Bangunan Bersejarah Surabaya

bangunanbersejarah.com  Selain menguasai, penjajah juga leluasa membangun gedung-gedung untuk kepentingan mereka. Tak heran bila kini banyak terdapat bangunan berumur tua berdiri di Surabaya.

Bahkan terdapat gedung yang umurnya sudah melebihi 100 tahun. Bangunan bersejarah ini merupakan warisan masa lalu yang diharapkan juga tetap menjadi bagian dari masa kini dan masa depan. Hal ini sebagai saksi dan mengingatkan nilai sejarah dari kota tersebut. Pemerintah Kota Surabaya pun berupaya untuk menjaga bangunan peninggalan penjajah tersebut. Oleh karena itu, ada sejumlah bangunan yang masuk bangunan cagar budaya. Walau berumur tua, bukan berarti bangunan ini kita lupakan. Merangkum dari “Jalan-jalan Surabaya Enaknya ke Mana? Gedung HVA berdiri pada 1924 di Jalan Merak 1 Surabaya Utara dan diarsiteki Ed Cuypers. Sejak awal, gedung ini dijadikan pusat pengelolaan perkebunan oleh HVA. Hal ini dapat dipersepsikan menjadi lambing konglomerasi industry gula dan awal penetrasi kapitalisme di Jawa. Kini gedung ini digunakan sebagai pusat PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX. Untuk sampai di lokasi ini dapat menggunakan transportasi umum denga nrute ke JMP. Setelah tiba di JMP, dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 500 meter.

Bisa juga dengan mengikuti Heritage Tour yang berangkat dari House of Sampurna. Rumah Sakit Darmo berdiri megah dengan gaya mirip gereja di Belanda. Rumah sakit ini sudah mulai beroperasi sejak 15 Januari 1921. Sesuai namanya, gedung rumah sakit ini berdiri di Jalan Raya Darmo. Pada masa pendudukan Jepang, gedung ini sempat dijadikan kamp internir anak dan wanita. Saat Sekutu masuk Surabaya, kamp ini diambil alih Letkol Rendall. Rumah sakit ini juga pernah menjadi pusat pertahanan pasukan Brigjen A.W.S. Bagian depan gedung inilah yang menjadi saksi meletusnya insiden pertama perang antara pasukan Mallaby dengan arek-arek Suroboyo. Kini, Rumah Sakit Darmo berfungsi sebagai The Garden Hospital sekaligus Health and Medical Tourism. Stasiun Goebeng sudah dibangun sejak 1878. Pembangunan pertama kali dilakukan di sisi barat kereta api. Beberapa kali stasiun ini mengalami renovasi. Stasiun Goebeng menjadi bangunan khas stasiun kereta api kelas satu dan setara dengan Stasiun Jakarta Kota, Yogya, Semarang, dan Bandung. Hingga kini, bagian barat stasiun tetap terpelihara menjadi warisan sejarah. Hal ini membuat Stasiun Goebeng berbeda dengan stasiun lain sekarang ini yang merupakan bangunan modern.

Gaya-gaya arsitektur berkembang, dan karya tulis mengenai arsitektur mulai bermunculan. Karya-karya tulis tersebut menjadi kumpulan aturan (kanon) untuk diikuti khususnya dalam pembangunan arsitektur religius. Contoh kanon ini antara lain adalah karya-karya tulis oleh Vitruvius, atau Vaastu Shastra dari India purba. Di periode Klasik dan Abad Pertengahan Eropa, bangunan bukanlah hasil karya arsitek-arsitek perorangan, melainkan oleh para seniman/ ahli keterampilan bangunan yang dihimpun dalam satu asosiasi untuk mengorganisasi proyek. Pada masa Renaissance (pencerahan), humaniora dan penekanan terhadap individual menjadi lebih penting daripada agama, dan menjadi awal yang baru dalam arsitektur. Pembangunan ditugaskan kepada arsitek-arsitek individual – Michaelangelo, Brunelleschi, Leonardo da Vinci – dan kultus individu pun dimulai. Namun pada saat itu, tidak ada pembagian tugas yang jelas antara seniman, arsitek, maupun insinyur atau bidang-bidang kerja lain yang berhubungan. Pada tahap ini, seorang seniman pun dapat merancang jembatan karena penghitungan struktur di dalamnya masih bersifat umum. Perkembangan jaman yang diikuti revolusi berbagai bidang ilmu (misalnya engineering), dan penemuan bahan-bahan bangunan baru serta teknologi, menuntut para arsitek untuk mengadaptasi fokus dari aspek teknis bangunan kepada estetika (keindahan bentuk).

Kemudian dikenal istilah “arsitek aristokratik” yang lebih suka melayani bouwheer (owner/Client) yang kaya dan berkonsentrasi pada unsur visual dalam bentuk yang merujuk pada contoh-contoh historis. Contohnya, Ecole des Beaux Arts di Prancis pada abad 19 mengkader calon-calon arsitek menciptakan sketsa-sketsa dan gambar cantik tanpa mengiraukan konsep yang kontekstual. Sementara itu, Revolusi Industri menggerakkan perubahan yang sangat drastis yang membuka diri bagi masyarakat luas, sehingga estetika dapat dinikmati oleh masyarakat kelas menengah. Dulunya produk-produk berornamen estetis terbatas dalam lingkup keterampilan yang mewah, menjadi terjangkau melalui produksi massal. Produk-produk sedemikian tidaklah memiliki keindahan dan kejujuran dalam ekspresi dari sebuah proses produksi. Keadaan tersebut menimbulkan perlawanan dari seniman maupun arsitek pada awal abad ke-20, yang melahirkan pemikiran-pemikiran yang mengilhami Arsitektur Modern, antara lain, Deutscher Werkbund (dibentuk 1907) yang memproduksi bahan-bahan bangunan buatan mesin dengan kualitas yang lebih baik merupakan titik lahirnya profesi dalam bidang desain industri. Setelah itu, sekolah Bauhaus (dibentuk di Jerman tahun 1919) menafikan sejarah masa lalu dan cenderung menempatkan arsitektur sebagai perpaduan skill ,seni, dan teknologi.

Baca Juga :Bangunan Bersejarah Di Singapura

Ketika Arsitektur Modern mulai dikembangkan, ia merupakan sebuah elit terkemuka berlandaskan filosofis,moral, dan estetis. Konsep perencanaan kurang mengindahkan sejarah dan condong kepada fungsi yang melahirkan bentuk. Peran Arsitek menjadi sangat penting dan dianggap sebagai “kepala/pimpinan”. Kemudian arsitektur modern masuk ke dalam lingkup produksi massal yang sederhana dan relatif murah sehingga mudah diperoleh. Dampaknya, bangunan di berbagai tempat memiliki bentuk yang mirip/cenderung tipikal. Tidak ada ciri khas ataupun keunikan bangunan Arsitektur Modern ini, masyarakat umum mulai jenuh menerima arsitektur modern pada tahun 1960-an, antara lain karena kekurangan makna, kemandulan,keseragaman, serta kesan-kesan psikologisnya. Sebagian arsitek berusaha menghilangkan kesan buruk ini dengan menampilkan Arsitektur Post-Modern yang membentuk arsitektur yang lebih dapat diterima umum pada tingkat visual, meski dengan mengabaikan konsepnya. Arsitektur Post Modern ini lebih dikenal sebagai arsitektur yang “mengawinkan” dua code/langgam/style. Misalnya, antara yang antik dan modern, antara maskulin (bangunan dengan struktur lebih dominan) dan feminin (kecantikan eksterior dominan ), antara western dengan timur, yang kuno dengan yang baru ,dll. Sedangkan kalangan lain baik arsitek maupun non-arsitek menjawab dengan menunjukkan apa yang mereka pikir sebagai akar masalahnya.