bangunan sejarah vietnam

5-Bangunan-Bersejarah-Indonesia-Ini-Memang-Sengaja-Dihancurkan 5-Bangunan-Bersejarah-Indonesia-Ini-Memang-Sengaja-Dihancurkan

bangunanbersejarahSebagai sebuah masa penjajahan yang terlama dalam sejarah Bangsa Indonesia, Belanda telah banyak melakukan pembangunan gedung-gedung untuk kepentingannya sendiri. Kini sisa-sisa peninggalaan gedung itu telah menjadi sejarah yang dapat dinikmati oleh siapapun, termasuk bagi para sejarahwan yang hendak melakukan penelitian di Indonesia.

Namun dari sekian banyak bangunan peninggalan Belanda, tak sedikit pula yang sebenarnya sudah rubuh dan hancur tak berbekas. Sangat disayangkan sebenarnya hilangnya bangunan bersejarah seperti ini bisa memutus mata rantai sejarah pada masa lalu. Nah, berikut akan kami sajikan ulasan mengenai bangunan sejarah yang telah hancur itu, baik karena kesengajaan atau karena bencana alam. Simak ulasan lengkapnya berikut ini.

1. Gedung Societeit Harmonie

Gedung_Soci_teit_de_Harmonie_di_Pasuruan_antara
Daerah Harmoni yang terkenal dengan halte transit busway-nya dulunya memiliki nilai historis yang tinggi. Munculnya nama ‘Harmoni’ tak lepas dari sejarah di tahun 1776 bahwa di tempat tersebut dulunya pernah berdiri gedung Societeit Harmonie. Gedung ini tepatnya terletak di ujung jalan Veteran dan Majapahit.
Gedung Societeit harmonir dibangun pada masa pemerintahan Gubernur Jendral Reineir de Klerk kemudian dilanjutkan Daendels hingga Raffles dan secara resmi dibuka tahun 1868. Gedung ini menjadi tempat berkumpulnya para sosialita Belanda, yakni perempuan-perempuan Belanda yang suka berdandan sangat cantik dan mewah. Sayangnya nilai historis bangunan ini sudah hilang sejak tahun 1985 karena di tahun itu bangunan ini dirubuhkan untuk dibuat lapangan parkir Sekretariat Negara.

2. Taman Wihelmina

Taman-Whelmia
Taman Wihelmina dulunya disebut-sebut sebagai taman paling ‘wow’ di zamannya. Pada saat pembangunannya di abad ke-19, taman ini menjadi taman terluas dan yang paling indah di Asia. Sayangnya, semenjak kemerdekaan taman ini tidak terurus lagi dan akhirnya diputuskan untuk dirubuhkan guna membangun Masjid Istiqlal di bekas reruntuhan lokasinya.

Dulunya di taman ini terdapat Monumen Waterloo atay Atjeh Monument untuk mengenang para serdadu Belanda yang tewas selama Perang Aceh. Uniknya, taman yang dibangun Daendels ini terletak di dekat Kali Ciliwung yang saat itu masih bersih (tidak kotor seperti sekarang) sampai-sampai terdengar gemericik air yang menyegarkan kala berjalan-jalan di situ.

3. Hotel Des Indes

hotel des indes
Hotel Des Indes didirikan pada tahun 1856 dan pernah menjadi saksi sejarah di tanggal 7 Mei 1949 sebab di hotel ini terjadi penandatanganan Perjanjian Roem-Royen antara Indonesia dan Belanda. Perjanjian ini sangat penting karena menandakan dimulainya babak penghentian Agresi Militer Belanda di Yogyakarta dan menjadi gerbang menuju Konferensi Meja Bundar di mana Belanda mengakui kedaulatan Negara Indonesia.
Penamaan Hotel Des Indes disebut-sebut merupakan usulan dari Douwes Dekker. Hotel ini terkenal karena kemewahannya, bahkan Alfred Russel Wallace, salah satu ilmuwan evolusi dunia sebelum Charles Darwin, pernah menginap di hotel ini untuk penelitian di Indonesia. Sayangnya di tahun 1971 hotel bersejarah ini dirubuhkan untuk dibangun Kompleks Pertokoan Duta Merlin.

Baca Juga : Beberapa Bangunan Bersejarah Di Indonesia Yang Diakui Dunia

4. Gedung Kerapatan Deli
Kota Medan dulunya merupakan ibukota Kabupaten Deli Serdang sebelum dipindahkan ke Lubuk Pakam. Kantor Bupati Deli Serdang menempati Gedung Kerapatan yang berfungsi sebagai ruang kerja Sultan dan juga sebagai lembaga peradilan bagi orang-orang yang tidak tunduk kepada hokum Kolonial Belanda.

Gedung ini dibangun pada masa kekuasaan Sultan Ma’mun Al Rasyid Alamsyah pada tahun 1906. Gedung Balai Kerapatan terletak tepat di depan Istana Maimun yang sekarang berlokasi di Jalan Brigjen. Katamso. Namun karena kebijakan Walikota Medan, Abdillah, di tahun 2004 bangunan bersejarah ini justru dirubuhkan rata dengan tanah.

5. Gereja Kubah
Pada tahun 1736 di Kota Tua Batavia pernah berdiri sebuah gereja. Gereja itu bernama Gereja Kubah atau dalam Bahasa Belanda disebut sebagai Nieuwe Hollandsche. Gereja ini dibangun oleh Christoffer Moll yang sebenarnya tidak mempunyai keahlian di bidang arsitektur. Oleh karena itu saat terjadi gempa bumi 3 tahun kemudian gereja ini mengalami kerusakan yang parah.
Kerusakan gereja ini diperparah dengan bangkrutnya VOC. Untuk itu Daendels memerintahkan supaya bangunan gereja ini dibongkar dan tanahnya dijual untuk menambah kas kompeni pada tahun 1808. Akhirnya sekarang bangunan ini sudah tidak berbekas sama sekali. Namun, jika ingin melihat miniatur bangunan Gereja Kubah sudah ada di Museum Fatahillah.

Nah, itu tadi 5 bangunan bersejarah Bangsa Indonesia yang sengaja dihancurkan baik oleh pemiliknya maupun karena kebijakan pemerintah. Di zaman modern seperti ini memang kebutuhan manusia semakin meningkat. Namun tidak arif rasanya jika peninggalan-peninggalan bersejarah justru menjadi korban atas cepatnya laju modernisasi. Sadar atau tidak sadar, bangunan itu adalah hak bagi generasi penerus bangsa karena mereka lah yang akan mewarisi peninggalan itu sebagai suatu kebesaran sejarah berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.