bangunan di negara india yang termasuk keajaiban dunia

Bangunan Bersejarah Di India Selain Taj Mahal Bangunan Bersejarah Di India Selain Taj Mahal

bangunanbersejarah.com India memiliki banyak bangunan bersejarah selain Taj Mahal yang telah mendunia. Melancong ke India rasanya belum lengkap kalau tak berkunjung ke kota Agra. Kota ini dijuluki sebagai salah satu sudut segitiga emas India, selain Jaipur dan New Delhi. Tidak hanya menyimpan kemegahan Taj Mahal, Agra juga memiliki satu lagi tempat bersejarah, Benteng Agra atau biasa disebut Lal Qila artinya benteng merah. Benteng ini juga termasuk situs warisan dunia UNESCO. Benteng ini didirikan oleh kaisar Shah Jahan pada tahun 1638. Lokasinya sekitar 2,5 km dari Taj Mahal. Bangunan benteng merah memiliki nilai historis yang panjang, benteng ini menjadi saksi sejarah berakhirnya dinasti Mughal. Dinamakan benteng merah karena dinding raksasa di delapan sisinya terbuat dari batu pasir merah.Dinding benteng memanjang dari ujung kota Shahjahanabad, panjang seluruhnya 2,5 km dengan ketinggian dari 16 hingga 33 meter. Bangunan berikutnya adalah Hawa Mahal atau yang dikenal dengan sebutan Istana Dinding. Hawa Mahal dibangun pada tahun 1799 oleh maha Raja Sawai Pratap Singh dan kini menjadi salah satu ciri khas utama kota Jaipur. Hawa Mahal berbentuk seperti piramida dan bertingkat lima, jumlah jendela kecilnya amat banyak dengan atap yang melengkung.

Pada bagian depan istana terdapat ukiran dan hiasan yang detil sementara bagian belakang terdapat pilar-pilar saja tanpa hiasan. Hawa Mahal adalah salah satu bangunan dari arsitektur Rajputana yang dipengaruhi gaya arsitektur Mughal. Hawa Mahal cukup populer bagi para wisatawan yang berkunjung ke Rajasthan, karena pemandangannya yang menakjubkan. Waktu terbaik untuk mengunjungi Hawa Mahal adalah pagi hari ketika matahari terbit. Cahaya keemasan mentari pagi membuat bangunan Hawa Mahal menjadi kian eksotis. India juga punya masjid tua yang bersejarah, masjid Jama namanya. Masjid jama selesai dibangun pada tahun 1656 oleh kaisar Shah Jahan yang juga mendirikan Taj Mahal. Masjid jama adalah masjid utama dan terbesar di India, masjid ini dapat menampung sekitar 25.000 jamaah. Masjid Jama terletak di tepi jalan raya yang sangat ramai di Delhi tua, yaitu jalan Chadni Chowk. Bangunannya memadukan antara corak candi Budha dan arsitektur India sebelum islam masuk. Masjid Jama memiliki dua menara setinggi 40 meter yang membuatnya nampak sangat unik dan indah.

Bentuk bangunan seperti ini ada yang dirancang dan di bangun oleh arsitek zaman itu, dan ada juga yang tidak. Bangunan-bangunan seperti itu umumnya mengikuti model bangunan yang populer di Eropah. Kadang-kadang juga memperlihatkan asal tempat gaya arsitektur yang berlainan di Eropah. Dan tidak jarang juga adalah campuran berbagai gaya baik yang berasal dari Eropah; maupun campuran bangunan yang berasal dari budaya Asia seperti (China), India dan campurannya dengan bangunan gaya Eropah. Berbagai gaya bangunan itu mengisi wajah kota-kota lama yang ada sekarang ini di Indonesia. Akibat perkembangan modernisasi kota yang tak terbendung, maka para pemerhati, para ahli, dan masyarakat yang peduli akan warisan budaya, kemudian membentuk organisasi dan wacana untuk melindungi warisan zaman lampau itu. Mereka juga menyadari pentingnya kota lama bangunan bersejarah warisan budaya sebagai kawasan industri pariwisata. Keseriusan mengembangkan diri menjadi sebuah kota wisata terlihat di antaranya dalam upaya penzonaan wilayah kota ke dalam industri kawasan wisata. Kenyataan adanya begitu banyak bangunan bersejarah menunjukkan kerelevanan di kota-kota Indonesia dijadikan sebuah kota kawasan wisata berbasis bangunan bersejarah sekaligus dalam rangka melestarikan warisan budaya bernilai sejarah yang memiliki estetika tinggi, terutama dengan mengedepankan city tour (tur keliling kota) berupa kunjungan di setiap gedung lama yang masih tersisa.

Baca Juga :Bangunan Seram Menurut Citra Prima

Bagaimana sebuah bangunan dapat ditangkap oleh pengamatnya mengandung unsur sejarah budaya atau tidak ? Hal ini yang perlu menjadi diskusi jika membahas bangunan bersejarah atau budaya tertentu. Bisa saja bangunan itu adalah komplek bangunan baru, tetapi ditangkap oleh pengamatnya sebagai bangunan benilai budaya dan sejarah. Jadi masalahnya bukan hanya bagaimana memelihara bangunan lama, tetapi juga bagaimana meniru bangunan bercorak lama. Masalah ini adalah masalah ungkapan (ekspresi) sebuah bangunan. Para penulis dan teoritikus arsitektur meyakini bahwa ungkapan visual bangunan yang pertama terletak pada bangunan itu sendiri yang sifatnya relatip menetap, yang kedua adalah pada bahasa (language) visual dan verbal yang dipakai untuk mendeskripsikan karya arsitektur itu. Menurut Johnson, istilah ekspresi sering didiskusikan dalam studio-studio arsitektur sampai hari ini. Justru sebagai sebuah istilah, boleh mirip dengan istilah yang digunakan dalam berbagai bidang kreatif lainnya seperti seni rupa, musik, sastra dan literatur. Namun, Johnson mengulas, istilah ekspresi seakan-akan dapat menampung semua ungkapan, seperti yang ditemukan dalam berbagai wacana arsitektur.