Inilah Fakta dari Pembunuhan Gender

Inilah Fakta dari Pembunuhan Gender

Inilah Fakta dari Pembunuhan Gender – Saat ini sudah semakin banyak jenis kasus yang terjadi didalam dunia ini yang dapat menyebabkan terjadinya perpecahan. Female homicide merupakan pembunuhan berbasis gender yang belakangan jadi sedang menjadi topik hangat di media. Istilah ini dikenal pula dengan istilah femicide atau femisida dalam bahasa Indonesia. Kasus-kasus seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Namun, intensitasnya kian merebak luas selama pandemi berlangsung, saat dimana orang-orang dianjurkan di rumah saja atau melakukan karantina mandiri.

1. Istilah femisida diperkenalkan oleh Diane E.H. Russell pada tahun 1976
Dilansir The New York Times, Diane E.H. Russell adalah peneliti dan aktivis yang memopulerkan terma tersebut ketika menghadiri International Tribunal on Crimes Against Women di tahun 1976. Konferensi ini sendiri membahas dan mengutuk segala bentuk kejahatan terhadap perempuan.

Russell memberikan kredit pada Carol Orlock sebagai pencetus pertama istilah tersebut. Namun, keduanya setuju kalau Russell yang membuat istilah femisida dikenal luas. Femisida, menurut Russell, adalah tindakan pembunuhan yang dilakukan oleh laki-laki dengan korban seorang perempuan. Femisida bisa berupa pembunuhan langsung atau penyiksaan, pemerkosaan, dan perlakuan lainnya yang berujung pada kematian seorang perempuan.

Sedangkan definisi World Health Organization (WHO) lebih lebih luas lagi. Menurut WHO, Femisida adalah kekerasan terhadap perempuan, baik secara verbal murder cases, emosi, fisik, seksual, dan bentuk paling fatalnya adalah pembunuhan. Femisida dibedakan dengan pembunuhan biasa karena umumnya ada relasi kuasa yang tidak seimbang antara pelaku laki-laki dengan korban perempuan.

2. KDRT dan honor killing masuk dalam kategori femisida
Femisida identik dengan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) karena kebanyakan pelakunya adalah laki-laki terdekat, seperti pasangan atau mantan pasangan. Studi yang dilakukan WHO dan London School of Hygiene and Tropical Medicine pada 2012 menemukan bahwa 35 persen pembunuhan perempuan di level global dilakukan oleh pasangan mereka sendiri. Jauh berbeda dengan pembunuhan pria oleh pasangan yang hanya terjadi sekitar 5 persen saja dari total kasus. Itu pun didominasi oleh alasan membela diri karena sudah ada tindak kekerasan yang dilakukan si pria sebelumnya.

Selain KDRT antar pasangan, femisida juga bisa berupa honor killing. Pembunuhan yang didasari keyakinan bahwa korban telah menodai kehormatan keluarga atau dirinya sendiri. Mirisnya, seringkali korban honor killings adalah korban perkosaan atau incest yang dipojokkan keluarga mereka. Femisida dalam bentuk honor killing banyak terjadi di kawasan Timur Tengah dan Asia Selatan. Kerap juga terjadi di komunitas imigran asal dua kawasan tersebut di beberapa negara Barat.

Selain honor killing, kekerasan dan pembunuhan pada perempuan yang terkait dengan budaya adalah masalah mahar. Di India, banyak perempuan meninggal karena dibunuh keluarga iparnya sendiri. Biasanya karena mahar yang mereka berikan pada keluarga laki-laki kurang besar.

3. Femisida bisa dilakukan orang yang tak dikenal sama sekali dan banyak terjadi di Amerika Latin
Tidak menutup kemungkinan femisida juga dilakukan oleh orang yang tak dikenal sekalipun. Biasanya, hal ini terjadi lantaran didasari motif pelecehan seksual yang berujung pembunuhan. Kasus femisida tipe ini banyak terjadi di kawasan Amerika Latin seperti Meksiko, Guatemala, Venezuela, dan Honduras.