Bangunan Seram Menurut Citra Prima

Bangunan Seram Menurut Citra Prima

bangunanbersejarah.com Bangunan seram menjadi bumbu cerita para traveler ketika bertualang. Menurut Citra Prima, parapsycholog sekaligus presenter ‘Masih Dunia Lain’, ada beberapa bangunan di Indonesia yang seram dan bikin penasaran. Indonesia adalah negara yang tepat untuk traveler pecinta wisata horor. Betapa tidak, Indonesia punya beberapa bangunan seram yang konon dihuni mahluk astral. Parapsycholog sekaligus presenter ‘Masih Dunia Lain’ Trans7, Citra Prima punya opini sendiri soal bangunan seram di Indonesia. Menurutnya, hampir semua bangunan yang didatangi program ‘Masih Dunia Lain’ adalah seram dan berhantu.

Ada beberapa bangunan seram di Indonesia yang suasana mistisnya membekas di pikiran Citra. Pertama adalah bekas Hotel Skygarden di kawasan Gombel, Semarang. Hotel 2 lantai itu terkenal di kalangan pejalan tahun 1980-an, namun akhirnya bangkrut dan terbengkalai. Tak sampai di situ, lampu syuting juga sempat pecah. Beberapa penampakan pun tertangkap kamera. Bersama kru ‘Masih Dunia Lain’, Citra Prima pernah menyambangi sebuah rumah yang konon bekas tempat tinggal dukun santet. Rumah tersebut berada di sebuah desa terpencil di Jember, Jawa Timur. Kisahnya, dukun tersebut memelihara banyak jin di rumahnya. Namun akhirnya si dukun meninggal secara tragis sekaligus misterius, kemudian dimakamkan di depan rumahnya. Kesan antik dan beraura mistis, justru menjadi nilai lebih dan daya kharisma banyak hotel legendaris di dunia yang menarik perhatian wisatawan. Di Indonesia juga ada yang semacam itu. Menurut Citra, Hotel Tugu di Malang punya aura semacam itu di The Sugar Baron Room. Ada lukisan hitam putih tersebut bergambar seorang wanita cantik berambut panjang sedang berdiri di depan cermin. Rambutnya terurai sampai lutut, dan tatapannya seakan hidup. Ini adalah lukisan Oei Hui Lan, putri pria terkaya di Asia Tenggara abad ke-19. Kata Citra, tak diketahui siapa yang melukisnya sampai sekarang.

Dalam arsitektur renaissance, denah bangunan sangat terikat pada dalil-dalil yang sistematik, seperti bentuk simetri, kejelasan dan teraturan bentuk. Teknik konstruksi yang rumit dihindari. Kubah arsitektur renaissance merupakan ciri khas yang menyolok, yang banyak diterapkan pada bangunan-bangunan gereja. Kubah ini merupakan bentuk baru yang dibangun di atas bangunan yang berbentuk silinder, yang menjadi bagian penting dengan hiasan-hiasan tiang, jendela-jendela, dan sebagainya. Gereja Santo Petrus dapat dikatakan sebagai karya arsitektur gereja hasil pandangan intelektualitas arsitek-arsitek renaissance, yang telah membuat pembagian denah dan pembagian detail-detail tampak bangunan yang teratur, sehingga keindahan arsitekturnya dapat dimengerti melalui pikiran yang tenang dan teratur. Kapel Sistina adalah bangunan batu persegi-empat yang tinggi. Bagian luarnya tidak dihiasi dengan hiasan-hiasan arsitektur atau dekoratif seperti yang biasanya ada di banyak gereja-gereja zaman Abad Pertengahan dan Renaissance di Italia. Bangunan ini tidak memiliki facade bagian luar ataupun pintu gerbang yang dapat digunakan untuk prosesi arak-arakan karena jalan masuk selalu lewat ruang-ruang dalam di lingkungan Istana Kepausan. Ruangan dalamnya dibagi menjadi tiga lantai dengan bagian paling bawahnya berukuran sangat luas dan ditopang oleh ruang bawah tanah berbentuk setengah lingkaran yang sangat kokoh, dilengkapi juga dengan beberapa jendela dan sebuah pintu untuk menuju ke halaman luar.

Bagian atasnya adalah ruangan utama, yakni Kapel itu sendiri, dengan ukuran dalamnya adalah panjang 40,9 meter (134 kaki) dan lebar 13,4 meter (44 kaki) sesuai dengan ukuran Kuil Solomon seperti yang ada di dalam Perjanjian Lama. Langit-langit yang melengkung berbentuk kubah memiliki ketinggian 20,7 meter (68 kaki) dari lantai. Bangunan ini memiliki enam jendela berbentuk melengkung di kedua sisinya dan dua jendela dengan bentuk yang sama di bagian depan dan belakangnya. Beberapa jendela ini telah ditutup, namun kapelnya masih dapat dimasuki. Di atas langit-langit yang melengkung terdapat lantai tiga bangunan dengan kamar-kamar untuk para penjaga. Di lantai ini dibangun jalan terbuka yang mengelilingi bangunan yang ditopang oleh sirip-sirip fondasi yang muncul menggantung dari tembok. Jalan terbuka ini telah dilindungi dengan atap karena kerap kali menjadi sumber masuknya air ke kubah kapel. Kerusakan dan keretakan di Kapel Maggiore memaksa kapel yang baru untuk membangun penopang yang sangat besar untuk menyokong dinding-dinding luar. Dibangunnya bangunan-bangunan lain di sekitarnya telah menyebabkan perubahan pada tampilan luar Kapel Sistina ini.

Baca Juga :Bangunan Megah Dan Bersejarah Turki

Desain interior gereja Vatikan memiliki interior yang sangat megah dan melambangkan keagungan Tuhan. Interior gereja vatikan berdesain elegan dan didominasi oleh warna putih. Didalam gereja tersebut, terdapat banyak patung-patung figure Alkitab. Sesuai dengan namanya, di dalam gereja Vatikan terdapat patung Santo Petrus dan juga kuburan santo Petrus. Dalam gereja ini terdapat berbagai hiasan-hiasan di atas kubah-kubah gereja. Kubah gereja tersebut terdapat fresco-fresco atau lukisan yang indah ciptaan beberapa pelukis terkenal seperti Michaelangelo yang terkenal sebagai seniman yang lahir di er renaissance. Karena gereja ini dibangun pada era renaissance maka, banyak patung dan lukisan-lukisan sebagai pemanis dari interior gereja tersebut. Seperti juga kebanyakan bangunan yang diukur secara internal, ukuran pastinya sulit untuk didapatkan, namun perbandingan umum dari ukuran kapel ini dapat diperkirakan dengan cukup akurat. Panjang bangunan ini adalah ukuran dasarnya, dibagi tiga untuk memperoleh ukuran lebar bangunan dan dibagi dua untuk memperoleh ukuran tinggi bangunan. Sehingga terciptalah rasio 6:2:3 untuk panjang, lebar dan tinggi bangunan. Dengan menggunakan rasio tersebut, terdapat enam jendela di tiap sisi bangunan dan dua jendela di bagian depan dan belakang bangunan. Selembar penyekat yang memisahkan kapel sebenarnya diletakkan tepat di tengah-tengah antara dinding altar dan pintu masuk, namun hal ini telah berubah. Ukuran perbandingan yang jelas merupakan ciri khas arsitektur Renaissance dan mencerminkan berkembangnya ketertarikan terhadap warisan klasik Romawi. Michelangelo antara tahun 1535-1541, setelah Jatuhnya Roma tahun 1527 oleh para tentara bayaran dari Kekaisaran Romawi Suci, yang secara efektif mengakhiri zaman Renaissance Romawi, tak lama sebelum Konsili Trento.